Dari Kompos Hingga Sepeda Lipat: Gerakan Hijau Warga Bogor

photo author
- Senin, 27 Oktober 2025 | 19:47 WIB
Warga Bogor bersepeda di pagi hari sambil membawa kantong kompos dari hasil olahan rumah tangga. (Foto/ Istimewa.)
Warga Bogor bersepeda di pagi hari sambil membawa kantong kompos dari hasil olahan rumah tangga. (Foto/ Istimewa.)

Beberapa sekolah di Bogor juga menjalankan program “Hari Tanpa Plastik”. Setiap Kamis, murid diwajibkan membawa kotak makan dan botol minum sendiri. Kepala Sekolah SD Negeri Sempur menuturkan, “Anak-anak cepat sekali meniru kebiasaan baik. Dari mereka, kita belajar tentang masa depan yang lebih bersih.”

Kebiasaan baru ini membentuk ekosistem kecil yang saling mendukung. Dari dapur hingga jalan raya, dari meja kerja hingga taman kota, semua bergerak dalam satu arah: kesadaran ekologis yang tumbuh dari bawah.

Baca Juga: JungleLand Sentul, Taman Hiburan Keluarga di Tengah Alam Bogor dengan Petualangan Seru

Ekonomi Hijau Mulai Dirasakan

Selain dampak lingkungan, gerakan ini juga menciptakan peluang ekonomi baru. Produk-produk ramah lingkungan lokal kini semakin diminati.
Contohnya, EcoCycle Bogor, usaha kecil yang menjual kompos organik hasil olahan komunitas. Ada juga SepedaKita.id, toko online yang menyewakan sepeda lipat harian bagi wisatawan.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, jumlah UMKM berbasis lingkungan meningkat 30 persen dalam dua tahun terakhir. “Pasarnya tumbuh karena kesadaran masyarakat meningkat,” ujar Kepala DLH, Yudi Rahman.

Tren ini bukan hanya membuat kota lebih hijau, tapi juga menghidupkan ekonomi lokal. Warga Bogor tidak lagi melihat keberlanjutan sebagai beban, melainkan sebagai peluang.

Menemukan Harmoni dengan Alam

Gerakan eco-friendly warga Bogor adalah cermin dari kesadaran baru: bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari satu ember kompos, satu pedal sepeda, atau satu kebiasaan kecil yang konsisten.

Di kota yang sering diselimuti hujan, warga Bogor kini belajar hidup seirama dengan alam, bukan melawannya. Mereka menemukan keseimbangan antara modernitas dan keberlanjutan antara kenyamanan dan kesadaran.

Bogor tidak lagi hanya dikenal karena kebunnya yang hijau, tapi juga karena warganya yang berani memelihara warna hijau itu dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Faizal khoirul imam

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X